Hi kawan kawan pembaca, selamat pagi :D pagi Ini aku mencoba menulis sesuatu yang fiktif.
Ini adalah cerita fabel, cerita ini berjudul Tiga Saudara. Oh iya pembaca sekalian, bila kawan kawan pembaca menggunakan cerita ini untuk hal hal lain, mohon dicantumkan sumbernya ya.
===========================================================================
Pada suatu hari, di suatu hutan yang asri dan damai ada seekor
tikus muda yang hidup tanpa bimbingan orangtua. Tikus itu hidup di hutan
bersama dua orang temannya yaitu seekor burung pipit dan seekor kadal. Mereka
bertiga tinggal di sebuah pohon chery yang cukup besar tetapi cukup kering. Mereka
bertahan hidup dengan segala hal yang tersedia di hutan itu, mulai dari air
sampai buah buahan. Semua hal mereka lakukan bertiga, mulai dari bersenang-
senang, mencari makan, mencari air, bahkan sampai semua kesusahan dan semua
ketakutan mereka jalani bertiga.
Suatu sore, mereka bertiga sedang berkumpul di tepi sungai
untuk mengambil air dan untuk istirahat sejenak setelah mereka berpencar mencari
bahan makanan.
“Hei
kawan, apa saja kah yang berhasil kalian dapatkan hari ini?”, tanya Tikus
kepada kedua temannya.
“Kita
berhasil mendapatkan sepotong nanas, dan sepotong roti yang terjatuh dari
tangan manusia yang sedang memakannya, kurasa cukup untuk tiga hari kedepan.”,
jawab Kadal.
“Aku
mendapatkan seekor cacing untuk makan malam, malam ini.”, jawab Burung Pipit
melanjutkan.
“Maafkan aku kawan, sebenarnya aku tidak mendapatkan bahan
makanan apapun, tapi aku menemukan korek yang bisa kita gunakan untuk sumber
cahaya dan kehangatan kita, serta aku juga mendapatkan tiga buah serpihan kayu
yang bisa kita gunakan untuk tempat minum kita sehingga kita tidak perlu lagi
minum dari satu wadah besar lagi.”, kata Tikus dengan nada sedikit sedih.
“Tidak apa
kok, yang penting kita selalu bersama.”, kata Burung Pipit menyemangati.
“Ya, itu
benar.”, tambah Kadal.
Saat malam tiba, merekapun kembali ke pohon chery tempat
tinggal mereka, dan saat mereka sampai di depan pohon itu, mereka terkejut
karena mereka melihat pohon yang tak pernah berbuah sejak pertama mereka tinggal
disitu menampakkan 3 buah chery.
“Hei
lihat, pohon kita akhirnya berbuah.”, teriak Burung Pipit dengan senang.
“Ya, kau
benar tapi apa yang harus kita lakukan terhadapnya? Apakah kita harus
memakannya atau kita simpan?”, tanya Kadal.
“Hei,
sebenarnya tadi aku mendengar percakapan seekor rubah dan seekor kucing yang
mengatakan bahwa kalau kita bertukar tempat minuman berisi air chery maka kita
akan menjadi saudara.”, kata Tikus.
Burung Pipit dan Kadal tidak membantah pernyataan Tikus,
bahkan mereka menyetujuinya. Mereka kemudian memeras buah chery tersebut dan
menuangkan airnya kedalam serpihan kayu yang didapatkan Tikus. Mereka bertukar
tempat minum mereka kemudian mereka bersulang dan meminumnya. Di bawah jutaan
bintang sambil diterangi cahaya api, mereka merayakan hari dimana akhirnya
mereka bertiga menjadi saudara.
“Dengan
kita menjadi saudara, meski kita menjalani impian kita masing- masing tapi
ikatan kita tidak akan pernah putus.”, kata Kadal kepada kedua saudaranya.
“Ya, kau
benar dan lihatlah aku pasti akan menjadi burung penjaga istana yang ada di
dekat hutan ini.”, kata burung semangat.
“Kalian
pun tunggulah saat dimana aku menjadi ahli dalam hal cuaca dan aku akan
berkeliling dunia mencari sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.” “lalu,
bagaimana denganmu?”, tanya Kadal kepada Tikus.
“Aku hanya
ingin menjadi seorang pengembara. Aku akan mengembara untuk menjadi lebih kuat
agar aku bisa melindungi teman yang kukasihi dan kucintai.”, kata Tikus dengan
nada meyakinkan.
Malam pun berlalu, hari demi hari mereka jalani dengan suka
cita meski melakukan sesuatu yang berbahaya.
Setahun pun berlalu, Kadal telah memulai perjalanannya untuk
memenuhi cita- citanya tiga bulan sebelum sekarang. Hari ini adalah hari dimana
Burung Pipit memulai cita citanya. Siang itu terjadi percakapan antara Tikus
dengan Burung Pipit yang disertai dua burung penjaga istana.
“Sudah
tiba saat dimana aku memulai cita- citaku, tidak apa- apa kah bila kau kini
tinggal sendiri?”, kata Burung Pipit kepada Tikus.
“Tidak
apa- apa, lagi pula aku akan mulai berkelana bulan depan setelah aku
meningkatkan kemampuan bertahan hidupku.”, kata Tikus tanpa keraguan.
“Baiklah,
aku akan dating lagi kesini sebulan dari sekarang, dan aku akan mencari Kadal
dan memberitahukannya bahwa kau akan mulai berkelana.”, kata Burung Pipit.
Burung Pipit pun pergi dan Tikus pun terdiam sementara.
Setelah terdiam Tikus pun langsung berlatih dan meningkatkan kemampuannya. Kini
setiap hari ia lalui sendiri, dan itu membuat ia lebih kuat.
Malam sebelum keberangkatannya pun tiba, tapi Tikus sedikit
gelisah karena angin berhembus begitu kencang tapi ia tidak terlalu
mempedulikannya dan ia langsung menyiapkan peralatan yang harus ia bawa.
Setelah Tikus selesai menyiapkan peralatan, badai besar tiba tiba dating,
melanda hutan serta daerah sekitarnya. Pohon chery yang menjadi tempat tinggal
Tikus pun rubuh, dan ia jatuh pingsan di malam itu.
Esok paginya Tikus sadarkan diri di dalam rumahnya, karena
melihat rumahnya yang hancur dilanda badai, ia langsung keluar dan memeriksa
keadaan sekitar. Saat Tikus keluar, ia
terkejut karena melihat Burung Pipit, saudaranya tergeletak di tanah. Tanpa
piker panjang Tikus mencoba menyadarkan Burung Pipit, tapi saat Burung Pipit
sadar Tikus lebih kaget lagi karena di perut saudaranya ada tancapan serpihan
kayu yang menusuk cukup dalam.
“Kau tidak
perlu menangis saudaraku, orang kuat sepertimu tidak pantas menangis didepanku
seperti itu.”, kata Burung Pipit lemah. “Aku yakin kau akan menjadi seperti apa yang kau inginkan, jadi
selamat berjuang…”.
Burung Pipit pun mati seketika dan Tikus menangis keras. Tak
lama setalah Burung Pipit mati, ada seekor burung pengantar surat yang
mengantarkan surat dari Kadal kepada Tikus. Saat Tikus membacanya ia lebih
terkejut lagi karena surat itu berisi: “Hai Tikus dan Burung Pipit, aku
sampaikan surat ini kepada kalian karena aku sudah tidak punya waktu lagi, aku
dihukum mati di Negeri Kalajengking karena kepintaranku yang melampaui batas,
Jadi saat kalian membaca ini aku pasti sudah tiada lagi di Bumi ini. Burung
Pipit, bisa kah kau menjaga adik kita sampai dia mencapai cita citanya?
Kupercayakan dia padamu ya, karena dia satu satunya hartaku yang paling
berharga, jadi tolong jaga dia ya.”.
Tikus pun membulatkan tekad untuk pergi mengembara. Ia sadar
bahwa kematian itu pasti menimpa semua makhluk hidup, jadi ia berfikir untuk
mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Setelah mengubur jasad Burung Pipit, ia
memulai perjalanannya menjadi pengembara.
Di awal perjalanannya ia berkata,”Kadal, Burung Pipit, aku
tak akan mengecewakan kalian, aku pasti akan menjadi hewan yang berguna.
Lihatlah!!”
Di hari itu lah Tikus memulai perjalanannya menjadi
pengembara.
SELESAI
==========================================================================
maaf ya kalau ceritanya kurang seru :'(