Saturday, June 23, 2012

POST FIKTIF

Hi kawan kawan pembaca, selamat pagi :D pagi Ini aku mencoba menulis sesuatu yang fiktif.
Ini adalah cerita fabel, cerita ini berjudul Tiga Saudara. Oh iya pembaca sekalian, bila kawan kawan pembaca menggunakan cerita ini untuk hal hal lain, mohon dicantumkan sumbernya ya.
===========================================================================


Pada suatu hari, di suatu hutan yang asri dan damai ada seekor tikus muda yang hidup tanpa bimbingan orangtua. Tikus itu hidup di hutan bersama dua orang temannya yaitu seekor burung pipit dan seekor kadal. Mereka bertiga tinggal di sebuah pohon chery yang cukup besar tetapi cukup kering. Mereka bertahan hidup dengan segala hal yang tersedia di hutan itu, mulai dari air sampai buah buahan. Semua hal mereka lakukan bertiga, mulai dari bersenang- senang, mencari makan, mencari air, bahkan sampai semua kesusahan dan semua ketakutan mereka jalani bertiga.
Suatu sore, mereka bertiga sedang berkumpul di tepi sungai untuk mengambil air dan untuk istirahat sejenak setelah mereka berpencar mencari bahan makanan.
Hei kawan, apa saja kah yang berhasil kalian dapatkan hari ini?”, tanya Tikus kepada kedua temannya.
Kita berhasil mendapatkan sepotong nanas, dan sepotong roti yang terjatuh dari tangan manusia yang sedang memakannya, kurasa cukup untuk tiga hari kedepan.”, jawab Kadal.
Aku mendapatkan seekor cacing untuk makan malam, malam ini.”, jawab Burung Pipit melanjutkan.
“Maafkan aku kawan, sebenarnya aku tidak mendapatkan bahan makanan apapun, tapi aku menemukan korek yang bisa kita gunakan untuk sumber cahaya dan kehangatan kita, serta aku juga mendapatkan tiga buah serpihan kayu yang bisa kita gunakan untuk tempat minum kita sehingga kita tidak perlu lagi minum dari satu wadah besar lagi.”, kata Tikus dengan nada sedikit sedih.
Tidak apa kok, yang penting kita selalu bersama.”, kata Burung Pipit menyemangati.
Ya, itu benar.”, tambah Kadal.
Saat malam tiba, merekapun kembali ke pohon chery tempat tinggal mereka, dan saat mereka sampai di depan pohon itu, mereka terkejut karena mereka melihat pohon yang tak pernah berbuah sejak pertama mereka tinggal disitu menampakkan 3 buah chery.
Hei lihat, pohon kita akhirnya berbuah.”, teriak Burung Pipit dengan senang.
Ya, kau benar tapi apa yang harus kita lakukan terhadapnya? Apakah kita harus memakannya atau kita simpan?”, tanya Kadal.
Hei, sebenarnya tadi aku mendengar percakapan seekor rubah dan seekor kucing yang mengatakan bahwa kalau kita bertukar tempat minuman berisi air chery maka kita akan menjadi saudara.”, kata Tikus.
Burung Pipit dan Kadal tidak membantah pernyataan Tikus, bahkan mereka menyetujuinya. Mereka kemudian memeras buah chery tersebut dan menuangkan airnya kedalam serpihan kayu yang didapatkan Tikus. Mereka bertukar tempat minum mereka kemudian mereka bersulang dan meminumnya. Di bawah jutaan bintang sambil diterangi cahaya api, mereka merayakan hari dimana akhirnya mereka bertiga menjadi saudara.
Dengan kita menjadi saudara, meski kita menjalani impian kita masing- masing tapi ikatan kita tidak akan pernah putus.”, kata Kadal kepada kedua saudaranya.
Ya, kau benar dan lihatlah aku pasti akan menjadi burung penjaga istana yang ada di dekat hutan ini.”, kata burung semangat.
Kalian pun tunggulah saat dimana aku menjadi ahli dalam hal cuaca dan aku akan berkeliling dunia mencari sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.” “lalu, bagaimana denganmu?”, tanya Kadal kepada Tikus.
Aku hanya ingin menjadi seorang pengembara. Aku akan mengembara untuk menjadi lebih kuat agar aku bisa melindungi teman yang kukasihi dan kucintai.”, kata Tikus dengan nada meyakinkan.
Malam pun berlalu, hari demi hari mereka jalani dengan suka cita meski melakukan sesuatu yang berbahaya.
Setahun pun berlalu, Kadal telah memulai perjalanannya untuk memenuhi cita- citanya tiga bulan sebelum sekarang. Hari ini adalah hari dimana Burung Pipit memulai cita citanya. Siang itu terjadi percakapan antara Tikus dengan Burung Pipit yang disertai dua burung penjaga istana.
Sudah tiba saat dimana aku memulai cita- citaku, tidak apa- apa kah bila kau kini tinggal sendiri?”, kata Burung Pipit kepada Tikus.
Tidak apa- apa, lagi pula aku akan mulai berkelana bulan depan setelah aku meningkatkan kemampuan bertahan hidupku.”, kata Tikus tanpa keraguan.
Baiklah, aku akan dating lagi kesini sebulan dari sekarang, dan aku akan mencari Kadal dan memberitahukannya bahwa kau akan mulai berkelana.”, kata Burung Pipit.
Burung Pipit pun pergi dan Tikus pun terdiam sementara. Setelah terdiam Tikus pun langsung berlatih dan meningkatkan kemampuannya. Kini setiap hari ia lalui sendiri, dan itu membuat ia lebih kuat.
Malam sebelum keberangkatannya pun tiba, tapi Tikus sedikit gelisah karena angin berhembus begitu kencang tapi ia tidak terlalu mempedulikannya dan ia langsung menyiapkan peralatan yang harus ia bawa. Setelah Tikus selesai menyiapkan peralatan, badai besar tiba tiba dating, melanda hutan serta daerah sekitarnya. Pohon chery yang menjadi tempat tinggal Tikus pun rubuh, dan ia jatuh pingsan di malam itu.
Esok paginya Tikus sadarkan diri di dalam rumahnya, karena melihat rumahnya yang hancur dilanda badai, ia langsung keluar dan memeriksa keadaan sekitar. Saat Tikus keluar,  ia terkejut karena melihat Burung Pipit, saudaranya tergeletak di tanah. Tanpa piker panjang Tikus mencoba menyadarkan Burung Pipit, tapi saat Burung Pipit sadar Tikus lebih kaget lagi karena di perut saudaranya ada tancapan serpihan kayu yang menusuk cukup dalam.
Kau tidak perlu menangis saudaraku, orang kuat sepertimu tidak pantas menangis didepanku seperti itu.”, kata Burung Pipit lemah. “Aku yakin kau akan menjadi seperti apa yang kau inginkan, jadi selamat berjuang…”.
Burung Pipit pun mati seketika dan Tikus menangis keras. Tak lama setalah Burung Pipit mati, ada seekor burung pengantar surat yang mengantarkan surat dari Kadal kepada Tikus. Saat Tikus membacanya ia lebih terkejut lagi karena surat itu berisi: “Hai Tikus dan Burung Pipit, aku sampaikan surat ini kepada kalian karena aku sudah tidak punya waktu lagi, aku dihukum mati di Negeri Kalajengking karena kepintaranku yang melampaui batas, Jadi saat kalian membaca ini aku pasti sudah tiada lagi di Bumi ini. Burung Pipit, bisa kah kau menjaga adik kita sampai dia mencapai cita citanya? Kupercayakan dia padamu ya, karena dia satu satunya hartaku yang paling berharga, jadi tolong jaga dia ya.”.
Tikus pun membulatkan tekad untuk pergi mengembara. Ia sadar bahwa kematian itu pasti menimpa semua makhluk hidup, jadi ia berfikir untuk mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Setelah mengubur jasad Burung Pipit, ia memulai perjalanannya menjadi pengembara.
Di awal perjalanannya ia berkata,”Kadal, Burung Pipit, aku tak akan mengecewakan kalian, aku pasti akan menjadi hewan yang berguna. Lihatlah!!”
Di hari itu lah Tikus memulai perjalanannya menjadi pengembara.

SELESAI

==========================================================================
maaf ya kalau ceritanya kurang seru :'(

2 comments:

  1. koreksi :
    ...cukup besar tetapi cukup... = cukup besar, tetapi cukup
    buah buahan = buah-buahan
    kalau kalimat langsung itu sebelum petik terakhir nggak perlu (.), tapi (,) atau yang lain

    Tentang cerita:
    Ceritanya mudah diserap, kalo bisa tiap paragrafnya diberi jarak biar nggak pusing bacanya.

    overall =w=b

    ReplyDelete